Publikasi: 18/05/2005 09:22 WIB
eramuslim - Seringkali
sesuatu yang tadinya menjadi milik kita, atau sesuatu yang berada dekat
dengan diri kita, menjadi begitu berharga ketika ia telah pergi,
meninggalkan diri kita. Entah itu karena dipaksa, terpaksa, atau dengan
sukarela. Seringkali, ketika ia masih menjadi bagian dalam hidup kita,
ia tak mendapatkan penghargaan selayaknya, atau setidaknya mendapatkan
perhatian cukup dari diri kita. Namun, bila ia telah pergi atau hilang,
rasanya penyesalan yang terasa tak kan berkesudahan.
Contoh
paling sederhana adalah ketika kita jatuh sakit, seringan atau seberat
apapun, pastinya kita akan merindukan masa-masa ketika sehat. Betapa
menderitanya bila harus menanggung sakit, sedangkan kita menyaksikan
orang lain yang sehat dapat beraktivitas dengan optimal tanpa
terganggu. Mungkin saja, ketika penyakit itu belum menghampiri, kita
sering lupa untuk mensyukuri, betapa nikmat sehat itu mahal harganya.
Saat
kedua orangtua masih menunggu kita pulang ke rumah, menjadi tempat
berbagi yang setia, yang selalu siap mencurahkan segenap kasih sayang
mereka dan memberikan segalanya untuk diri kita, kita tak menyadari
bahwa ketika kelak mereka telah tiada, kita baru akan merasakan bahwa
keberadaan mereka tak tergantikan.
Memiliki teman sungguh
menyenangkan, dan masing-masing dari mereka pastinya meninggalkan bekas
tersendiri dalam benak kita. Terhadap seorang teman dekat, kita mungkin
berpikir bahwa senang sekali bila kebersamaan dengannya dapat terjaga
sampai kapanpun. Namun kehidupan menjalankan skenario yang seringkali
tak terduga. Kita tak akan pernah menyangka, kapan kebersamaan itu akan
ternoda bahkan rusak oleh sesuatu yang menggangu dari luar, ataupun
yang timbul dari dalam diri masing-masing. Atau perpisahan harus
terjadi oleh sebab lainnya.
Bergelimang harta kekayaan tak
selamanya akan membuat hidup seseorang menjadi tenang. Bahkan berbagai
kekhawatiran akan muncul, dan kerap meresahkan. Takut kehilangan, sebab
sekian banyak harta yang dimiliki telah dikumpulkan susah payah, dengan
cara apapun. Demikian juga dengan keluarga, anak-anak dan istri atau
suami. Mereka semua ibaratnya permata yang ingin selalu dijaga.
Bayangkan, apabila suatu saat musibah datang, dan kita harus kehilangan
salah satu atau bahkan semua.
Seringkali seorang manusia yang
tidak bisa menghargai apa yang telah diamanahkan untuk menjadi
miliknya, akan menyesal sejadi-jadinya bila kelak ia kehilangan sesuatu
tersebut. Penyesalan itu berbuahkan air mata tak habis-habis serta
kesal yang berkepanjangan, bahkan tak jarang yang lantas menyalahkan
takdir bahkan menuding ketidakadilan Tuhan sebagai penyebab. Padahal
Allah memberikan serta mencabut sesuatu dari kehidupan kita pasti
disertai maksud dan tujuan di baliknya. Bila kita mau merenungkan
segala kejadian yang dialami, lautan hikmah yang akan kita temui. Pasti
terdapat hikmah besar di balik setiap peristiwa yang kita alami. Apakah
itu akan membuat kita semakin dekat dengan-Nya, ataukah semakin jauh,
hanya kita sendiri yang bisa menjawabnya.
Seseorang yang berusaha
demikian keras untuk mempertahankan apa yang telah menjadi miliknya,
baik dengan ‘menguncinya’ rapat-rapat, menyembunyikannya supaya tak
hilang, atau menyewa sekian banyak bodyguard demi menyelamatkan
harta miliknya itu, tetap saja ia tak bisa berbuat apa-apa bila harus
kehilangan. Entah dengan cara apapun kehilangan itu terjadi.
Maka,
bila kita harus kehilangan, apapun yang kita cintai, relakanlah ia.
Sebab mungkin saja Allah mengambilnya dari kita sebab akan digantikan
oleh yang lebih baik lagi. Yang jelas, Sang Khalik pasti memiliki
rencana tersendiri bagi setiap hamba-Nya. Apa yang menurut diri kita
baik, belum tentu itu yang terbaik di hadapan Allah. Dan sebaliknya,
apa yang kita tidak sukai, bisa jadi itu adalah yang terbaik dari Allah
dan sesuai dengan yang kita butuhkan.
Sesungguhnya segala sesuatu
yang berada dalam ‘genggaman’ kita, bukanlah milik kita sepenuhnya.
Mereka hanyalah titipan, yang sewaktu-waktu akan diambil oleh Sang
Pemilik, kapanpun bila Ia berkehendak. Bila saat itu tiba, kita tidak
akan berdaya untuk menahannya barang sedetikpun.
---- Thanks to Allah, I have u honey :-* n Thanks to All too I can Pass My Difficult Time -----
Recent Comments